Papua Pegunungan — Koops TNI Habema mengerahkan helikopter militer untuk mengevakuasi Sinta Bilolo, istri almarhum Aris Sanda (45), sopir travel yang tewas dalam insiden kekerasan di wilayah Papua Pegunungan.
Sinta diketahui merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas sebagai guru di pedalaman Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Evakuasi dilakukan setelah kondisi keamanan di jalur darat Trans Wamena-Nduga dinilai tidak memungkinkan untuk dilalui pascainsiden yang menewaskan suaminya.
Langkah tersebut dilakukan atas perintah Pangkoops TNI Habema Brigjen TNI Riyanto. Selain mempertimbangkan faktor keselamatan, evakuasi juga ditujukan agar Sinta dapat segera meninggalkan wilayah rawan dan berkumpul bersama keluarga yang tengah menghadapi suasana duka.
Dievakuasi Menggunakan Helikopter
Proses evakuasi berlangsung melalui beberapa tahapan. Sinta bersama dua orang pendamping dijemput dari Distrik Mbua menggunakan helikopter Bell dan Fennec milik TNI Angkatan Darat.
Rombongan kemudian diterbangkan menuju Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga. Setelah tiba di Kenyam, Sinta dan pendampingnya melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat jenis Caravan menuju Wamena.
Rangkaian penerbangan tersebut dilakukan untuk menghindari perjalanan melalui jalur darat yang masih dianggap berisiko.
Selama proses evakuasi, aparat keamanan melakukan pengawalan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan dari kelompok bersenjata di sekitar wilayah yang dilalui.
Aris Sanda Tewas dalam Perjalanan
Aris Sanda merupakan sopir travel yang telah bertahun-tahun melayani masyarakat di wilayah pedalaman Papua. Ia disebut telah menjalankan pekerjaannya selama sekitar 13 tahun, termasuk mengangkut warga dan kebutuhan logistik menuju wilayah yang sulit dijangkau.
Insiden yang menimpa Aris terjadi ketika kendaraan travel yang dikemudikannya dalam perjalanan dari Wamena menuju Mbua.
Berdasarkan keterangan aparat, kendaraan tersebut dihentikan kelompok bersenjata di kawasan Tanjakan Gunung Boy. Para penumpang kemudian disebut dibebaskan, sementara Aris dibawa oleh kelompok tersebut.
Dalam perkembangan kasus, beredar informasi bahwa Aris dipaksa membuat video pernyataan sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia.
Jenazah Aris kemudian ditemukan bersama kendaraan yang dalam kondisi terbakar di kawasan pertigaan Danau Habema.
Aparat Dalami Kasus
Peristiwa tersebut kini masih menjadi perhatian aparat keamanan. Selain melakukan pengamanan di wilayah sekitar lokasi kejadian, aparat juga melakukan pendalaman terhadap rangkaian peristiwa yang menyebabkan Aris meninggal dunia.
Satgas Operasi Damai Cartenz menyatakan tuduhan bahwa Aris merupakan mata-mata tidak benar. Aparat menyebut Aris merupakan warga sipil yang selama ini bekerja sebagai sopir dan melayani kebutuhan transportasi masyarakat di wilayah pedalaman.
Aris, yang berasal dari Tana Toraja, disebut telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat setempat selama lebih dari satu dekade.
Evakuasi terhadap Sinta menjadi bagian dari upaya aparat untuk memastikan keselamatan keluarga korban sekaligus memberikan akses kepada pihak keluarga agar dapat menghadapi proses pemakaman dan masa duka dengan lebih aman.
Hingga kini, aparat masih melakukan pengamanan serta pendalaman terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.(*)


