BerandaNasionalFathimah Azzahra, Calon Dokter yang Memilih Berdiri di Barisan Mahasiswa

Fathimah Azzahra, Calon Dokter yang Memilih Berdiri di Barisan Mahasiswa

Jakarta, (Mitra7.com) — Suasana Jakarta pada Selasa, 18 Agustus 2026, kembali diwarnai aksi mahasiswa. Di antara massa yang bergerak menuju kawasan Sudirman hingga Bundaran HI, sosok Fathimah Azzahra turut menjadi perhatian.

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu bukan hanya dikenal karena aktivitas akademiknya. Sebagai Wakil Ketua BEM Universitas Indonesia periode 2026, Fathimah Azahra juga aktif mendampingi Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan dalam berbagai kegiatan organisasi dan gerakan mahasiswa.

Kehadirannya di tengah aksi memperlihatkan sisi berbeda dari seorang calon dokter yang sehari-hari akrab dengan ruang kuliah, laboratorium, penelitian, serta berbagai kegiatan akademik.

Fathimah merupakan mahasiswa Program Sarjana Pendidikan Dokter FKUI angkatan 2023 melalui Kelas Khusus Internasional (KKI). Sebelum menempuh pendidikan tinggi, ia merupakan lulusan SMA Negeri 3 Depok dan diterima di UI melalui jalur Talent Scouting.

Di bidang akademik dan penelitian, kiprahnya juga cukup menonjol. Pada Mei 2025, Fathimah berhasil meraih juara pertama dalam ajang riset medis The 17th Liver Update.

Namun, minat Fathimah tidak berhenti pada ilmu kedokteran. Sejak sebelum memasuki perguruan tinggi, ia diketahui memiliki ketertarikan terhadap sejarah. Kegemarannya membaca berbagai literatur sejarah kemudian dituangkan melalui konten edukasi yang membahas pengetahuan dan peristiwa sejarah.

Memasuki kehidupan kampus, aktivitas organisasinya semakin berkembang. Fathimah pernah dipercaya sebagai Head of 2nd Commission Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Indonesia. Ia juga aktif dalam struktur legislatif mahasiswa dan pernah dipercaya menjadi Head of Community of Neuroscience and Psychiatry (CORE) FKUI 2024.

Selain itu, ia pernah mengemban tugas sebagai Project Officer Semarak Ramadhan FSI FKUI.

Beragam pengalaman tersebut membuat Fathimah terbiasa berada dalam ruang yang menuntut kemampuan berkomunikasi, berargumentasi, mengelola organisasi, sekaligus menyikapi perbedaan pandangan.

Berhadapan dengan Perdebatan MBG

Nama Fathimah semakin dikenal setelah perdebatan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian publik di media sosial.

Dalam perdebatan tersebut, Fathimah mempertanyakan urgensi pelaksanaan program MBG dengan menyoroti persoalan infrastruktur dasar yang menurut pandangannya masih menjadi kendala bagi anak-anak di sejumlah daerah.

Pandangan tersebut kemudian berhadapan dengan Juru Bicara Partai Gerindra Bahtra Banong.

Perdebatan itu memperlihatkan karakter Fathimah dalam menyampaikan pendapat. Ia tampak berusaha mempertahankan argumentasinya tanpa menghindari perbedaan pandangan dengan pihak lain.

Namun, keberanian Fathimah paling terlihat ketika ia terlibat langsung dalam aksi mahasiswa di Jakarta.

Berdiri di Tengah Ketegangan Aksi

Dalam aksi mahasiswa pada Selasa, 18 Agustus 2026, situasi sempat memanas ketika mobil komando mahasiswa dari arah Dukuh Atas dihadang aparat kepolisian.

Pengemudi mobil komando disebut diminta memutar balik dengan alasan pengeras suara dinilai mengganggu aktivitas perkantoran di kawasan Sudirman.

Di tengah situasi tersebut, Fathimah berusaha mendekati barisan aparat. Ketegangan kemudian meningkat hingga terjadi aksi saling dorong antara sebagian mahasiswa dan polisi.

Di tengah kepadatan massa, suara bentakan dan teriakan mahasiswa terdengar bersahutan. Fathimah pun berada di antara mahasiswa yang berusaha menghadapi situasi tersebut.

Bagi Fathimah, persoalan yang terjadi saat itu bukan semata soal pengeras suara ataupun arah pergerakan mobil komando. Ia menilai keselamatan mahasiswa menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.

Emosi Fathimah kemudian memuncak. Air mata terlihat jatuh, tetapi ia tetap bertahan di lokasi.

Ia selanjutnya menyampaikan keberatannya kepada Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold EP Hutagalung terkait tindakan anggota kepolisian yang menurutnya membuat posisi massa semakin terhimpit.

Dalam narasi mengenai kejadian tersebut, Fathimah disebut memperoleh permintaan maaf secara langsung dari perwira tersebut di lokasi.

Setelah situasi itu, Fathimah naik ke atas mobil komando. Dari sana, ia melihat massa mahasiswa dan barisan aparat yang masih berada dalam situasi tegang.

Dengan suara lantang, ia menyampaikan keberatannya.

“Bagi saya, nyawa teman-teman saya lebih berharga. Karena saya tahu, bagi Anda, nyawa teman-teman saya tidak ada artinya!”

Pernyataan tersebut kemudian menjadi salah satu momen yang paling mencolok dari keterlibatan Fathimah dalam aksi.

Sikap itu sekaligus memperlihatkan sisi lain dirinya sebagai mahasiswa kedokteran. Di tengah aksi yang penuh tekanan, perhatian terhadap keselamatan manusia menjadi bagian penting dari sikap yang ia tunjukkan.

Dua Dunia yang Bertemu

Fathimah Azzahra kini berada di antara dua dunia yang sekilas terlihat berbeda.

Di satu sisi, ia adalah mahasiswa kedokteran yang menekuni penelitian dan ilmu medis. Di sisi lain, ia aktif dalam organisasi mahasiswa dan memilih menyuarakan pandangan di ruang publik.

Dunia akademik membiasakannya membaca data, memahami persoalan secara sistematis, melakukan penelitian, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti. Sementara aktivitas organisasi dan aksi mahasiswa menghadirkannya pada situasi yang menuntut keberanian, komunikasi, pengambilan keputusan, serta kemampuan menghadapi tekanan.

Keduanya bertemu dalam satu hal: kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi orang lain.

Prestasi akademik telah membawanya ke ruang penelitian. Pengalaman organisasi membentuk kemampuan kepemimpinannya. Sedangkan keterlibatannya dalam aksi mahasiswa mempertemukannya secara langsung dengan dinamika sosial dan politik yang berkembang di masyarakat.

Kisah Fathimah karena itu tidak hanya tentang seorang mahasiswi kedokteran yang turun ke jalan. Lebih dari itu, ia menggambarkan generasi muda yang berusaha menjalankan dua peran sekaligus: mengejar pendidikan dan tetap mengambil bagian dalam kehidupan sosial.

Di antara buku kedokteran, penelitian ilmiah, organisasi mahasiswa, dan hiruk-pikuk demonstrasi, Fathimah memilih untuk tetap bersuara.

Dan pada akhirnya, keberaniannya di tengah massa menunjukkan bahwa menjadi calon dokter tidak selalu berarti hanya berada di ruang kuliah atau laboratorium. Ada kalanya, seorang calon dokter juga memilih berdiri di tengah masyarakat ketika merasa ada sesuatu yang perlu diperjuangkan.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read

Related News