Jepang, (Mitra7.com) – Aksi penolakan terhadap rencana pembangunan sebuah masjid di Jepang ramai menjadi perbincangan publik dan viral di media sosial. Demonstrasi tersebut digelar oleh sejumlah warga yang menyuarakan keberatan mereka terhadap kehadiran rumah ibadah tersebut di lingkungan mereka.
Aksi ini dipelopori oleh seorang aktivis politik lokal, Kawai Yusuke, bersama kelompok pendukungnya. Dalam demonstrasi tersebut, para peserta menyampaikan berbagai kekhawatiran, mulai dari potensi kemacetan lalu lintas, kebisingan dari suara azan, hingga kemungkinan meningkatnya kebutuhan makanan halal di wilayah tersebut.
Selain itu, perbedaan tradisi juga menjadi sorotan. Sebagian warga menilai praktik pemakaman dalam Islam yang berbeda dengan budaya kremasi yang umum di Jepang dapat memunculkan persoalan baru di masyarakat. Lokasi pembangunan masjid yang berdekatan dengan kuil Shinto bersejarah turut menambah sensitivitas isu tersebut.
Masjid yang direncanakan memiliki dua lantai dengan luas sekitar 1.000 meter persegi itu dijadwalkan mulai beroperasi pada 2027 atau 2028. Proyek tersebut diketahui telah memperoleh izin dari pemerintah setempat.
Di sisi lain, kelompok masyarakat yang mendukung pembangunan masjid juga turun ke jalan untuk menyuarakan pandangan mereka. Mereka menilai penolakan tersebut berpotensi mengarah pada diskriminasi terhadap komunitas Muslim yang terus berkembang di Jepang.
Ketegangan antara kedua kelompok sempat terjadi di lokasi aksi dan memicu insiden kecil. Aparat kepolisian pun dikerahkan dalam jumlah besar guna menjaga situasi tetap kondusif.
Fenomena ini mencerminkan dinamika sosial yang tengah berkembang di Jepang, seiring meningkatnya jumlah penduduk Muslim yang kini diperkirakan mencapai ratusan ribu orang. Pertumbuhan tersebut turut mendorong kebutuhan akan fasilitas ibadah yang memadai di berbagai daerah.
Pihak berwenang setempat disebut terus memantau perkembangan situasi guna memastikan stabilitas dan menjaga keharmonisan antar warga di tengah perbedaan pandangan yang muncul.(*)


