Jakarta, (Mitra7.com) – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah angkatan bersenjata Iran mengklaim telah menembak jatuh jet tempur Amerika Serikat jenis F-15 Eagle di wilayah perbatasan Iran–Kuwait pada Senin (2/3/2026) pagi waktu setempat.
Insiden tersebut turut dikonfirmasi oleh otoritas pertahanan Kuwait yang menyatakan bahwa pesawat tempur militer tersebut jatuh di wilayah negaranya. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan pesawat kehilangan kendali sebelum akhirnya menghantam daratan.
Dalam keterangan resmi, pihak Kuwait menyebutkan bahwa jet tersebut hancur setelah ditembak, menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang sedang berlangsung di kawasan.
Sementara itu, pihak militer Amerika Serikat belum memberikan tanggapan langsung terkait klaim tersebut. Namun, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Presiden telah menerima laporan mengenai insiden tersebut.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyebut bahwa kejadian ini tidak akan memengaruhi proses negosiasi dengan Iran. Dalam pernyataannya kepada media, ia menegaskan bahwa situasi yang terjadi merupakan bagian dari konflik bersenjata yang sedang berlangsung.
Dari pihak Iran, juru bicara komando operasional militernya mengklaim bahwa pesawat tersebut dihancurkan oleh sistem pertahanan udara canggih milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Ia menyebutkan bahwa pesawat hancur total dan proses pencarian lanjutan masih dilakukan.
Media lokal Iran bahkan melaporkan adanya imbauan kepada masyarakat untuk membantu menemukan awak pesawat, dengan iming-iming hadiah bagi yang berhasil menangkapnya dalam keadaan hidup.
Dalam perkembangan lain, militer Amerika Serikat sebelumnya juga melaporkan kehilangan sejumlah pesawat dalam operasi di kawasan tersebut. Di antaranya termasuk pesawat tanker yang jatuh di Irak serta beberapa jet tempur yang dilaporkan terkena tembakan sistem pertahanan udara sekutu.
Insiden ini dinilai berpotensi memengaruhi dinamika perang modern, khususnya dalam penggunaan teknologi pertahanan udara dan pertempuran udara berintensitas tinggi.
Konflik di Iran sendiri telah berlangsung lebih dari satu bulan, dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran yang kemudian meluas ke berbagai wilayah di Timur Tengah, serta berdampak pada stabilitas ekonomi global dan keamanan internasional.(*)


