Tel Aviv, (Mitra7.com). – Situasi konflik yang meningkat di Timur Tengah memunculkan laporan mengenai kondisi logistik militer Israel. Dalam beberapa waktu terakhir, Pasukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces (IDF) disebut mulai memanfaatkan kembali persediaan amunisi lama di tengah intensitas operasi yang tinggi.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa stok persenjataan modern mengalami tekanan akibat tingginya kebutuhan operasional, terutama dalam eskalasi konflik dengan Iran. Kondisi ini mendorong penggunaan kembali amunisi yang telah lama disimpan, termasuk yang berasal dari periode Perang Yom Kippur tahun 1973.
Amunisi yang dimaksud antara lain berupa bom konvensional tanpa sistem pemandu atau yang dikenal sebagai “dumb bombs”. Berbeda dengan senjata modern yang dilengkapi teknologi navigasi presisi, jenis bom ini mengandalkan metode konvensional dalam pentargetan.
Penggunaan amunisi lama tersebut memunculkan berbagai pandangan dari pengamat militer. Selain faktor usia yang dapat memengaruhi keandalan, aspek akurasi juga menjadi perhatian karena tidak sebanding dengan sistem persenjataan generasi terbaru.
Fenomena ini dinilai mencerminkan tingginya konsumsi logistik dalam operasi militer yang berlangsung. Dalam kondisi konflik berkepanjangan, kebutuhan amunisi yang besar dapat melampaui kapasitas produksi maupun suplai yang tersedia dalam waktu singkat.
Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari pihak militer Israel terkait penggunaan amunisi lama tersebut. Situasi di lapangan masih terus berkembang, sementara perhatian internasional tertuju pada dinamika konflik serta dampaknya terhadap stabilitas kawasan.(*)


