Mitra7.com – Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memanas terkait rencana Amerika Serikat (AS) akan mengawal kapal-kapal tanker yang tersekat di Selat Hormuz tersebut mendapat tantangan dari Iran. Dimana Iran dengan tegas melontarkan peringatan keras atas rencana Amerika Serikat tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan tak akan gentar dengan langkah militer Amerika Serikat itu dan menegaskan Iran dalam kondisi kesiapan penuh untuk menghadapi potensi pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat di Selat Hormuz. Jalur yang menjadi urat nadi energi dunia tersebut kini berada dalam pengawasan ketat seiring meningkatnya ancaman konflik terbuka.
Pernyataan itu muncul setelah presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz.
Selanjutnya Trump juga menyebut Amerika Serikat memiliki kekuatan militer dan ekonomi terbesar di dunia, sehingga mampu menjamin keamanan pelayaran internasional di kawasan tersebut.
Selain itu, pemerintah AS juga memerintahkan US International Development Finance Corporation untuk menyediakan perlindungan berupa asuransi serta jaminan risiko politik bagi kapal tanker yang melintasi wilayah rawan konflik tersebut.
Langkah tersebut bertujuan menjaga kepercayaan perusahaan energi dan operator kapal tanker agar tetap berani mengirimkan pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
Terkait dengan pernyataan presiden AS Donald Trump itu, juru bicara IRGC, Alimohammad Naini, secara terbuka menantang rencana pengerahan militer AS tersebut.
Bahkan Naini, secara tegas menyatakan bahwa Iran tidak akan gentar menghadapi kehadiran armada Amerika di jalur pelayaran strategis tersebut.
Selain itu Naini bahkan menyebut Teheran siap “menantikan” kedatangan kapal-kapal perang AS di kawasan itu.
“Iran sangat menyambut pengawalan kapal tanker minyak dan kehadiran pasukan AS untuk penyeberangan Selat Hormuz. Dan kami, ngomong-ngomong, menantikan kehadiran mereka,” ujar Naini seperti dikutip Dawn.
Pernyataan Naini tersebut dinilai sebagai bentuk tantangan langsung terhadap kebijakan keamanan Washington di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia Selat Hormuz, yang selama ini menjadi titik vital bagi perdagangan energi global, karena menjadi jalur utama distribusi minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.
Menyikapi meningkatnya ketegangan tersebut, Iran juga mengumumkan kebijakan pembatasan ketat terhadap lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Disamping itu otoritas Iran juga menegaskan bahwa unit angkatan laut IRGC kini memiliki kewenangan penuh untuk menindak setiap kapal yang mencoba melintas tanpa izin dari pemerintah Teheran.
“Pasukan kami diberi wewenang untuk menargetkan dan menghentikan setiap kapal yang melanggar aturan tersebut,” demikian pernyataan pejabat Iran yang dikutip sejumlah media internasional.
Dengan adanya kebijakan ini berarti kapal dari sebagian besar negara tidak lagi diizinkan melintasi selat tersebut.
Adapun larangan itu mencakup kapal tanker minyak, kapal pengangkut gas alam cair (LNG), hingga kapal kargo komersial yang biasanya melewati jalur tersebut setiap hari.
Sedangkan pemerintah Iran hanya akan memberikan pengecualian khusus bagi kapal berbendera China dan Rusia. Dalam kebijakan terbaru itu, hanya kapal dari kedua negara tersebut yang diperbolehkan melintasi Selat Hormuz.
Pemerintah Iran menyebut keputusan tersebut sebagai langkah strategis sekaligus bentuk apresiasi atas dukungan diplomatik dan ekonomi yang diberikan Beijing dan Moskow selama konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut pemerintah Iran, China dan Rusia tetap memberikan dukungan kepada Teheran di berbagai forum internasional serta tidak ikut menerapkan sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh negara-negara Barat.(*)


