BerandaEntertainmentEuis Mencuri Panggung, “Semesta Berdendank” Tutup dengan Aplaus Meriah di TIM

Euis Mencuri Panggung, “Semesta Berdendank” Tutup dengan Aplaus Meriah di TIM

Jakarta, (Mitra7.com) – Suasana Taman Ismail Marzuki bergemuruh oleh tepuk tangan saat pertunjukan musikal Pasar Dangdoet: Semesta Berdendank resmi berakhir. Penonton tidak hanya disuguhkan hiburan, tetapi juga pengalaman panggung yang hidup—penuh warna, emosi, dan sentuhan realitas yang terasa dekat.

Di antara deretan pemain, perhatian publik tertuju pada satu sosok: karakter Euis. Peran ini dibawakan oleh Hani Khumaira, yang tampil kuat sejak awal hingga akhir pertunjukan. Tak sekadar bernyanyi, ia menghadirkan emosi yang terasa nyata, membuat penonton larut seolah-olah menyaksikan kisah kehidupan, bukan sekadar akting.

Meski baru berusia 17 tahun, Hani menunjukkan kapasitas panggung yang matang. Ia merupakan putri dari Lisda Hendrajoni dan Hendrajoni, dan disebut-sebut mewarisi bakat seni dari sang ibu. Perjalanan seninya pun bukan hal baru. Sejak duduk di bangku sekolah menengah, ia telah menorehkan prestasi lewat kompetisi vokal dan aktif memimpin kelompok vokal.

Kini, langkahnya di industri hiburan kian serius. Selain menempuh pendidikan di Jakarta, Hani juga bergabung dengan manajemen yang berada di bawah naungan Atta Halilintar, membuka peluang lebih luas di dunia film dan pertunjukan.

Dalam pengakuannya, tampil di panggung Teater Jakarta menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Ia menyebut kesempatan tersebut sebagai hasil dari proses panjang yang penuh pembelajaran.

“Bisa tampil di panggung sebesar ini bersama tim yang luar biasa jadi momen yang sangat berarti,” ujarnya.

Musikal Semesta Berdendank sendiri mengangkat cerita kehidupan pasar tradisional yang berhadapan dengan arus modernisasi. Tokoh utama, Adeng, digambarkan sebagai sosok yang berjuang mengejar mimpi di tengah tuntutan keluarga. Cerita berkembang melalui balutan musik dangdut, dialog ringan, serta konflik yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pertunjukan ini tak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga refleksi sosial tentang mimpi, kompromi, dan harapan yang sering kali tidak berjalan seiring.

Di balik panggung, produksi ini melibatkan puluhan pemain dan ratusan kru yang menjalani proses latihan selama berbulan-bulan. Seluruhnya digerakkan oleh semangat komunitas seni yang ingin menghadirkan kembali budaya Indonesia dalam kemasan modern.

Respons penonton pun menunjukkan kesan mendalam. Salah satunya datang dari Dina (27), yang mengaku terbawa suasana sepanjang pertunjukan.

“Penampilan Euis benar-benar terasa. Jarang ada teater musikal yang emosinya sekuat ini,” katanya.

Penutupan Semesta Berdendank menyisakan kesan kuat: ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan pengalaman yang membekas. Dan melalui peran Euis, Hani Khumaira berhasil menegaskan kehadirannya sebagai talenta muda yang patut diperhitungkan di dunia teater musikal Indonesia.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read

Related News