New York, (Mitra7.com). – Pusat kota New York City dipenuhi lautan massa pada Sabtu (28/3/2026) ketika jutaan warga turun ke jalan di kawasan Times Square. Aksi ini digelar sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan militer terbaru Presiden Donald Trump terkait konflik di Timur Tengah.
Aksi para demonstrasi tersebut diprakarsai oleh gerakan akar rumput No Kings movement dan berlangsung hanya beberapa jam setelah muncul laporan mengenai instruksi serangan militer Amerika Serikat ke wilayah Iran.
Para demonstran membawa berbagai spanduk dan poster berisi tuntutan agar pemerintah menghentikan keterlibatan dalam konflik yang dinilai berpotensi memperluas perang. Mereka juga menyuarakan kekhawatiran atas eskalasi yang terus berlanjut bersama sekutu AS, termasuk Israel.
Aksi ini tidak hanya melibatkan masyarakat umum, tetapi juga mendapat dukungan dari sejumlah pejabat daerah. Walikota New York, Zohran Mamdani, secara terbuka mengkritik kebijakan tersebut dan menyatakan bahwa banyak warga menolak keterlibatan Amerika dalam konflik luar negeri.
Menurutnya, langkah pemerintah pusat dinilai tidak mencerminkan aspirasi publik yang menginginkan stabilitas dan menghindari keterlibatan dalam perang yang berkepanjangan.
Gelombang protes ini menjadi bagian dari rangkaian aksi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di berbagai kota besar di Amerika Serikat. Selain New York, aksi serupa juga dilaporkan berlangsung di Los Angeles dan Chicago, menunjukkan meluasnya sentimen anti-perang di kalangan masyarakat.
Sejumlah pengamat menilai bahwa dinamika ini dapat berdampak pada peta politik domestik, terutama menjelang pemilihan umum paruh waktu yang akan datang. Isu kebijakan luar negeri dan keterlibatan militer diperkirakan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi preferensi pemilih.
Situasi ini mencerminkan meningkatnya tekanan publik terhadap pemerintah AS di tengah ketidakpastian global, sekaligus memperlihatkan besarnya perhatian masyarakat terhadap arah kebijakan luar negeri negara tersebut.(*)


