Jakarta, (Mitra7.com). – Sosok Hendrik Irawan kembali menjadi perhatian publik setelah menyampaikan curahan hati terkait polemik yang berujung pada penutupan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) miliknya.
Dalam pernyataannya, Hendrik menilai reaksi publik terhadap video viral dirinya berjoget di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berdampak besar terhadap operasional usahanya. Ia menyampaikan kekecewaannya atas situasi tersebut, termasuk keputusan penutupan dapur yang menurutnya dipicu oleh tekanan dari warganet.
“Hei para netizen, puas kan kalian! Sekarang dapur SPPG kami ditutup,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa dampak dari penutupan tersebut tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi turut memengaruhi banyak pihak lain yang bergantung pada kegiatan dapur tersebut.
Menurut Hendrik, sekitar 150 pekerja yang sebelumnya terlibat dalam operasional kini kehilangan mata pencaharian akibat penghentian sementara aktivitas. Kondisi ini memunculkan perhatian terkait dampak sosial yang timbul dari kasus viral di media sosial.
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan untuk menghentikan sementara operasional salah satu dapur SPPG milik Hendrik. Keputusan tersebut diambil setelah ditemukan sejumlah pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku.
Beberapa pelanggaran yang disebutkan antara lain ketidaksesuaian tata letak dapur dengan standar teknis, aktivitas di area dapur tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), serta pembuatan konten yang dinilai tidak sesuai dengan etika operasional program.
Pihak BGN sebelumnya juga menegaskan bahwa program SPPG merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, sehingga seluruh mitra diharapkan mematuhi aturan dan standar yang telah ditetapkan.
Hingga kini, belum ada informasi lanjutan mengenai kapan dapur tersebut dapat kembali beroperasi. Sementara itu, polemik ini masih menjadi perhatian publik, khususnya terkait keseimbangan antara penegakan aturan dan dampak sosial yang ditimbulkan.(*)


