Washington. – Pemerintah Amerika Serikat melalui program Rewards for Justice milik Departemen Luar Negeri AS mengadakan sayembara senilai USD 10 juta (sekitar Rp169 miliar) untuk informasi tentang keberadaan pemimpin tertinggi Iran yang baru, Motjaba Khamenei dan pejabat tinggi lainnya.
Sedangkan nama-nama pejabat tinggi Iran yang masuk dalam daftar tersebut antara lain Wakil Kepala Staf Kantor Pemimpin Tertinggi Ali Asghar Hejazi, penasihat Ali Larijani, Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni, serta Menteri Intelijen Esmail Khatib.
“Individu-individu ini memimpin dan mengarahkan berbagai elemen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang merencanakan, mengatur, dan melaksanakan terorisme di seluruh dunia,” kata Departemen Luar Negeri AS seperti dilansir AFP, Sabtu (14/3/2026).
Terkait dengan informasi tersebut, AS mendesak para pemberi informasi untuk mengirimkan informasi melalui Tor atau Signal. AS mengatakan “informasi Anda dapat membuat Anda memenuhi syarat untuk relokasi dan hadiah.”
Sebagai informasi, Program “Hadiah untuk Keadilan” Departemen Luar Negeri AS menawarkan uang tunai untuk intelijen yang mengarah pada penangkapan atau penuntutan individu yang dicari.
Sejak militer gabungan AS-Israel melancarkan serangan bom ke Teheran pada Sabtu (28/2/2026) yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, peperangan antara ketiga negara tersebut hingga saat ini masih terus berlangsung.
Iran Janji Balas Keras Jika AS Bunuh Mojtaba Khamenei
Terkait adanya sayembara Amerika Serikat tersebut, Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali menegaskan, Iran akan memberikan balasan keras jika Amerika Serikat berupaya membunuh Mojtaba Khamenei.
Adapun pernyataan itu disampaikan Jalali saat ditanya mengenai kemungkinan upaya AS dan Israel mentargetkan Mojtaba. Dia menegaskan bahwa serangan Iran yang terjadi saat ini merupakan bagian dari respons atas terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei.
“Anda sedang melihat tanggapan Iran hari ini.” ujarnya
Selanjutnya dia juga menambahkan, rakyat Iran menuntut pembalasan atas kematian pemimpin mereka. Sejak tewasnya Ali Khamenei, kemarahan publik di Iran terus memuncak. Jalali pun memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menghadapi konsekuensi berat atas peristiwa tersebut.
“Kami menginginkan pembalasan darah untuk pemimpin kami. Rakyat marah dan menuntut pembalasan atas pertumpahan darah. Amerika telah dan akan menghadapi pembalasan yang berat di masa depan,” tegasnya.
Seperti diketahui setelah tewasnya Ali Khamenei, putranya, Mojtaba Khamenei, dipilih sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Hingga kini, otoritas Iran belum mengumumkan perubahan lain dalam struktur kepemimpinan militer negara tersebut.
Sementara itu, AS dan Israel awalnya menyebut serangan mereka sebagai langkah “pendahuluan” untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran. Namun kemudian keduanya secara terbuka menyatakan tujuan yang lebih besar, mendorong terjadinya perubahan rezim di Iran.(*)

